Menuju Puncak Merbabu 3/14/2013
Hujan semalaman membuat apapun yang kami miliki basah kuyup kena air hujan. Maka pagi di hari kedua dengan mentari cerah yang mulai meninggi kami manfaatkan untuk menjemur segala perlengkapan mulai dari tas, celana, jaket, jas hujan, dan apa saja yang basah pagi itu semua kami jemur. Keadaan pagi itu terasa begitu kontras dengan keadaan malam hari di hari pertama pendakian yang serasa berada di barak pengungsian korban banjir.
Tekad menuju puncak masih menggebu di dalam hati. Pukul 09.30 kami pun selesai packing lalu mulai melangkahkan kaki ke Puncak Merbabu. Selepas Pos 2 kami memasuki hutan lebat dengan jalan yang masih menanjak tajam namun bedanya ada tambahan tantangan disini, yaitu bebatuan yang besar ada diman-mana.
Setengah perjalanan kami beristirahat di dataran yang tidak terlalu luas di pinggir jurang dan di samping batu besar yang menghalangi jalur pendakian. Kabut hanya beterbangan di langit saja tidak sampai turun. Beberapa puncak pun terlihat menjulang disana.
Kami mulai melanjutkan perjalanan ditemani pohon edelweis di sisi kanan dan kiri yang masih belum berbunga dan tetap dengan tanjakan berbatu, hingga kami menemui trek yang paling ekstrim yang pertama yaitu trek vertikal 90° yang menuju pertigaan antara puncak dan jalur pendakian Kopeng.
Susah payah kami melalui trek vertikal tersebut karena selain sangat sulit dilalui juga sangat labil pijakannya dan rapuhnya tanaman untuk pegangan yang ada. Di trek vertikal inilah mulai turun gerimis yang lama kelamaan makin deras. Kami mulai mengeluarkan jas hujan sembari beristirahat menikmati pemandangan kawah mati Merbabu dengan bau belerang yang lumayan menyengat. Tanah yang ada di pos ini juga terlihat memutih seperti terkena muntahan belerang dari kawahnya.
Pos di dekat pertigaan Jalur Wekas dan Kopeng
Di bawah pertigaan ini terdapat satu dataran yang lumayan luas yang dinamakan Pos Helipad, biasanya pos ini juga sering digunakan untuk ngecamp oleh para pendaki.
Di lokasi pertigaan ini cukup ramai karena merupakan perlintasan jalur pendakian Wekas dan Kopeng. Ada yang sudah turun dari puncak, ada yang dari jalur Kopeng, dan ada pula kami dari jalur Wekas yang saling berpapasan disini.
jalur menuju Puncak Pemancar
Kami lanjutkan perjalanan menuju puncak dengan tujuan pertama yaitu Puncak Syarif yang merupakan salah satu puncak Merbabu dari tujuh puncak yang ada. Dari jalur Wekas ini kami hanya bisa menaiki beberapa puncak saja karena beberapa puncak yang lain ada di jalur Kopeng.
Sebelum memijakkan kaki di Puncak Syarif kami dihadapkan pada sebuah lintasan dengan lebar hanya sekitaran satu meter saja dengan sisi kanan dan kirinya jurang. Dikalangan pendaki trek tersebut sering disebut Jembatan Setan.
Makin menanjak lagi trek makin menyempit selayaknya berjalan di punggungan sapi, oleh karena itu trek ini dinamakan "Geger Sapi".
Puncak Pemancar
Sebagai bahan pengetahuan, berikut nama dari puncak-puncak Merbabu yang memiliki sebutan tersendiri, seperti:
Puncak I dinamakan Puncak Pertapaan / Watu Gubug (Jalur Kopeng).
Puncak II dinamakan Watu Tulis atau juga Puncak Pemancar (2.896 mdpl), karena di puncak ini berdiri tegak bekas pemancar radio relay (Jalur Kopeng).
Puncak III disebut Geger Sapi karena treknya mirip punggungan/punuk sapi (3.100 mdpl).
Puncak IV atau Puncak Syarif alias Puncak Prenggodalem (3.119 mdpl).
Puncak V disebut Puncak Ondorante (3.112 mdpl). “Ondo” yang berarti anak tangga dan “Rante” yang berarti rantai mengiaskan akan trek yang ada dengan hanya tipis sekali sehingga butuh kewaspadaan saat menuruni puncak ini dan disarankan untuk melepas carrier atau tas bawaan. Selain hanya berbentuk gigiran tanah, trek ini juga dihiasi dengan jurang dalam di kanan dan kirinya.
Puncak VI atau Puncak Kentheng Songo (Sembilan Lumpang/Tumbukan/Batu Cekung) yang seolah dipahat dan terisi air yang memiliki ketinggian sekitar 3.140 mdpl. Namun kenteng yang tersisa di puncak ini hanya 5 buah saja, 1 lainnya ada di pos sabana saat menuruni puncak tertinggi lewat jalur Selo dan 3 lainnya di bumi perkemahan desa Tuk Pakis.
Puncak VII atau Puncak Triangulasi (3.142 mdpl) yang merupakan puncak tertinggi Merbabu dan bisa langsung dicapai jika kita memakai jalur pendakian Selo.
Jalur Turun Merbabu lewat Selo
Pertigaan dua puncak dilihat dari Puncak Syarif
Dalam pendakian kali ini tim hanya menuju beberapa puncaknya saja yaitu 3 puncak tertingginya. Puncak pertama yang kami daki adalah Puncak Syarif dimulai dengan ditemuinya pertigaan 2 puncak yaitu Puncak Syarif ke kiri selama 10 menit dan Kenteng Songo ke kanan dengan waktu tempuh 45 menit dengan trek sangat ekstrim termasuk melewati "Ondo Rante" yang hanya berbentuk jalan setapak kecil dengan satu sisi langsung jurang.
Saat mendaki Puncak Syarif sebaiknya carrier di tinggal di pertigaan dua puncak saja karena nantinya juga turun lagi menuju pertigaan tersebut untuk melanjutkan perjalanan ke Puncak Kenteng Songo.
Puncak Syarif
Puncak Syarif juga
Puas berada di puncak tersebut dan sholat Dhuhur sekaligus jama’ sholat Ashar, kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju puncak selanjutnya yaitu Puncak Kenteng Songo dengan mengambil arah ke kanan dari pertigaan dua puncak tadi.
Trek menuju Puncak Kenteng Songo cukup perlu kewaspadaan tinggi karena ada beberapa bagian yang diharuskan untuk merambati tebing dengan pijakan tipis banget, sehingga diantara pendaki harus saling membantu agar tidak jatuh ke sisi jurang.
trek merambat sebelum Puncak Kenteng 9
Lepas dari lintasan ini, trek pendakian yang ekstrim belum usai begitu saja. Masih ada satu lintasan sebelum sampai di Puncak Kenteng Songo dengan trek vertikalnya. Di trek ini kami sebenarnya bisa memakai jalur yang lebih landai di sebelah kanan melalui jalan air yang kemiringannya tidak seekstrim yang vertikal namun jaraknya agak lebih jauh.
Kenteng Songo, ada yang sudah pecah beberapa
Pukul 2 tepat kami sampai di Puncak Kenteng Songo. Kami habiskan beberapa menit untuk beristirahat dan menikmati puncak setelah bersusah payah melewati trek yang cukup menguras tenaga.
Kurang satu puncak lagi yang akan kami pijak sebelum turun melalui jalur Selo yaitu Puncak Triangulasi yang juga merupakan puncak tertinggi Merbabu. Puncak tersebut jaraknya tidak terlalu jauh dari Kenteng Songo, kurang dari 5 menit kok...
Di Puncak Triangulasi kita bisa melihat beberapa puncak Merbabu yang tegak berdiri, mulai dari yang paling dekat yaitu Kenteng Songo hingga Puncak Pemancar. Namun sayangnya Merapi yang berada di sisi selatan Gunung Merbabu masih tertutup kabut.
Dingin di puncak ini makin menusuk saja karena memang hari mulai sore, maka kami memutuskan mulai untuk menuruni gunung pada sekitar pukul 4 sore dengan tujuan akhir Basecamp Selo.
Merapi tampak dibalik awan
Dimulai dengan turunan menuju trek sabana yang dihiasi pemandangan perbukitan yang sangat indah namun membuat kami menghela napas. Bukit berjejer di depan mata itu kami kira memang menjadi jalur pendakian yang harus dilewati, sebab dari atas terlihat jalan setepak naik dan menurun di tiga bukit itu. Tapi ternyata bayangan kami untuk menaiki satu per satu bukit-bukit itu salah, perjalanan menuruni gunung masih bisa mengambil jalur lain dengan mengambil arah ke kanan tanpa harus naik turun bukit, sehingga hanya perlu mengikuti jalur menurun saja hingga sampai di pos V atau Sabana II. Tepat di bawah bukit pertama ada sebuah kenteng yang diletakkan di pertigaan.
Sabana Merbabu jalur Selo
Sesampainya di Pos IV atau Sabana I hujan deras mulai turun sehingga kami memakai jas hujan untuk melanjutkan perjalanan. Jalur pun makin licin dengan adanya hujan ini.
Hari pun mulai gelap dan beberapa anggota rombongan saling terpisah jauh, kami putuskan berhenti sejenak untuk menunggu seluruh rombongan terkumpul. Setelah semuanya terkumpul, kemudian kami lanjutkan lagi perjalanan dengan dibagi menjadi beberapa kloter. Saya ikut di kloter pertama dengan beranggotakan 9 orang.
Pemandangan di belakang dengan jalur pendakian tampak segaris
Saya dan 8 teman manjadi rombongan pertama yang berangkat. Sebagai yang pertama berarti kami juga harus bisa memilih jalan yang benar agar tidak tersesat. Sempat menemui beberapa persimpangan yang membingungkan namun karena ada anggota yang pernah mendaki sebelumnya maka kami tinggal memberi tanda anak panah saja di tanah agar kloter selanjutnya bisa mengikuti trek yang kami gunakan. Rombongan kami dengan yang selanjutnya makin jauh jaraknya, kami menunggu selama hampir setengah jam di satu dataran untuk mendekatkan jarak. Namun setelah ditunggu sekian lama tidak muncul juga dan badan pun sudah mulai kedinginan karena hanya duduk-duduk saja, maka kami putuskan melanjutkan perjalanan dan kami putuskan untuk menunggu mereka di basecamp saja karena memang lampu-lampu penduduk sudah mulai terlihat dekat.
Di perjalanan turun kami juga berpapasan dengan beberapa pendaki yang melakukan pendakian malam. Ada juga yang ngecamp di pos 1 jalur pendakian Selo setelah dari puncak.
Sekitar pukul 10 malam kami tiba di basecamp Pak Parman/Kang Bari di Selo dan kami langsung melapor kedatangan kami sekaligus memesan teh hangat dan makan malam. Tak lupa sebelum istirahat kami bersih-bersih diri dulu tapi tak ada satupun dari kami yang mandi karena walau berkeringat, suhu di basecamp tersebut tak beda jauh dengan di atas gunung.
Setelah makan malam, semua anggota kloter pertama tidur beralaskan tikar di basecamp yang cukup luas tersebut. Ada juga pendaki lain yang sudah turun duluan dan berencana melanjutkan pendakian ke Gunung Merapi. Sebenarnya trip kali ini dibuat satu paket sekaligus dengan pendakian ke Merapi, namun melihat kondisi dan cuaca sepertinya pendakian lanjutan ke Merapi diurungkan.
Sekitar pukul 1 pagi rombongan selanjutnya mulai berdatangan yang kami kira mereka memutuskan mendirikan tenda di pos ternyata mereka turun langsung ke basecamp. Saya pun hanya melihat sepintas saja mereka berdatangan karena malam itu sangatlah melelahkan dan sudah sangat ngantuk banget.
tampak Gunung Lawu di kejauhan
Pagi harinya kami disambut dengan sunrise yang luar biasa di depan basecamp. Akhirnya dahaga sunrise indah di atas gunung cukup terbayar dengan adanya matahri terbit disitu. Walaupun tidak di puncak gunung, sunrise yang satu ini juga dihiasi oleh awan-awan di bawahnya dan Gunung Lawu di sebelah timur juga turut berpartisipasi menghiasi landscape kala itu. Memang Desa Selo ini termasuk desa yang berada di daerah yang lumayan tinggi maka tak heran jika masih mendapat pemandangan negeri di atas awan.
sunrise indah di basecamp Selo
Merapi dari basecamp Selo
Pukul 11.15 saya memutuskan untuk pulang duluan karena rombongan yang lain berencana jalan-jalan ke Jogja. Sebenarnya rencana awal saya memutuskan untuk jalan kaki dari basecamp sampai jalan raya Selo-Boyolali yang menurut salah satu anggota tidak seekstrim jalan menuju basecamp Wekas.
Ada suatu insiden saat saya jalan kaki menuju jalan raya Selo-Boyolali. Saya sempat salah memilih jalan yang niatnya untuk memotong jalan agar terbebas dari jalan aspal yang sebenarnya dekat tapi jadi jauh karena berkelok-kelok. Saya memilih jalan desa di tengah pekebunan yang terlihat lempeng-lempeng saja. Saya kira jalan itu memiliki ujung yang sama dengan jalan aspal yang berkelok-kelok tadi. Bukannya jadi dekat malah kesasar *_*.
Memangnya tahu dari mana kalau kesasar?
Saat asik menuruni jalan desa itu, saya berpapasan dengan seorang bapak-bapak. Beliau lah yang memberi tahu saya kalau jalan yang saya ambil malah jaraknya jadi tambah jauh untuk menuju jalan raya. Lalu apa solusinya? Masak saya harus balik lagi (tanya saya dalam hati). Karena kebaikannya bapak itu menawari saya untuk menggunakan jasanya alias ngojek. Bapak itu menawari tarif sebesar Rp 15.000,- tapi karena saya yang awalnya berniat jalan kaki sampai jalan raya, saya menolaknya dengan sesopan mungkin *_*. Saya lalu menawar Rp 10.000,-. Awalnya bapak itu tidak mau. Lalu saya putuskan untuk balik arah menuju pertigaan awal sebelum salah jalan. Selang beberapa detik bapak itu memanggil saya lagi dan mau mengantar saya dengan tarif Rp 10.000,- yang saya tawarkan.
Saya pun diantar sampai jalan raya untuk naik bus menuju Boyolali. Saat ngojek itu pula saya baru sadar ternyata memang jaraknya jadi tambah jauh banget. Setelah sampai jalan raya saya turun dan menunggu bus menuju Boyolali yang tak kunjung datang. Akhirnya saya putuskan untuk mencicil perjalanan menuju Boyolali dengan berjalan kaki, siapa tahu nanti di tengah perjalanan ada bus yang lewat. Namun ternyata setelah berjalan sekitar 4 km ke arah Boyolali, bus yang saya tunggu belum juga lewat. Saya mulai berpikiran buruk kalau memang tidak ada bus yang lewat jalur ini. Saya pun menghibur diri dengan menikmati saja pemandangan yang ada dan sedikit melirik ke GPS yang ada di telepon genggam. Daaaan ternyata jarak sampai Boyolali masih belasan km. Setelah beberapa jam berjalan di atas aspal jalan raya Selo-Boyolali dengan tas yang masih penuh, akhirnya bus yang saya tunggu akhirnya datang juga.
Hmmmmm alhamdulillah ya Allah engkau menyelamatkanku…
Bus kecil ini sudah lama ditunggu gak nongol-nongol tapi sekalinya lewat penuh banget dengan penumpang yang membawa karung dagangan. Keadaan itu membuat saya yang hanya memiliki sisa tenaga 5 Watt ini terpaksa harus menggelantung di pintu bus.
Penderitaan akhirnya berakhir setelah sampai di Pasar Cepogo dimana seluruh isi bus turun dan alhasil bus menjadi lowong kembali. Segeralah saya memilih kursi yang cocok buat leyeh-leyeh dan meregangkan otot. Sedari naik bus tadi hingga saya turun di Terminal Boyolali saya membayar dengan tarif ngasal tinggal ngasih saja sebesar Rp 3.000,- entah kurang atau lebih saya pasrah yang penting segera sampai di rumah.
Perjalanan kali ini diakhiri dengan naik bus menuju Salatiga dan pulang ke rumah.
Akhirnya bisa merebahkan badan dan makan kenyang setelah di atas gunung makan tidur seadanya.
Pengalaman yang sangat berkesan, tapi masih tergolong kurang memuaskan dan saya masih menyimpan hasrat untuk mendaki Merbabu dengan mendapat view terindah di musim depan.
SEKEDAR KENANG-KENANGAN DARI MERBABU..... "-"
Gunung Kukusan - Merbabu
batu besar di tengah jalur pendakian menuju persimpangan jalur Kopeng
Puncak Pemancar - Merbabu
Merbabu menghijau
punggungan gunung
"Geger Sapi" jalan setapak yang tipis
hampir ketemu trek merambat
sebagian tim di Puncak Kenteng Songo
di Puncak Triangulasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar