Tahun 1942, Ibu Pertiwi melahirkan seorang keturunan Tionghoa yang tidak disangka-sangka akan begitu dikenang oleh setiap orang yang mengenalnya. Beruntung sejarah masih memperkenalkan saya pada dirinya, karena memang saya dan dia berbeda generasi. Saya generasi 90-an, dia generasi 40-an. Beruntung pula sejarah masih memperkenankan saya mengenal sosok dia walaupun 44 tahun plus 1 hari sudah dia tercatat di batu nisan Gunung Semeru.
Dia-lah Soe Hok-Gie atau biasa dikenal dengan sebutan Soe atau Gie. Dia lahir pada tanggal 17 Desember 1942, dimana keadaan politik Indonesia saat itu sedang memperjuangkan kemerdekaan. Dia besar pada situasi politik Orde Lama, atau rezim pemerintahan Soekarno. Masa-masa remajanya-lah yang membentuk karakter Gie seperti yang sejarah ceritakan kepada saya saat ini. Sosok yang kritis, berani, keras kepala, tajam pemikirannya, setidaknya yang saya tangkap dari cerita sejarah. Namun, kehadirannya sebagai ‘social control’, salah satu fungsi mahasiswa, tidak berlangsung lama, karena 27 tahun minus 1 hari kemudian dia tertidur untuk selama-lamanya.
Saya mengenal sosok Gie melalui catatan hariannya, atau yang lebih dikenal sebagai ‘Catatan seorang Demonstran’ yang diterbitkan oleh LP3ES. Beruntung, buku yang pertama kali dicetak pada tahun 1983 atau 14 tahun setelah kematiannya pada 1969 ini bisa berada di tangan saya. Dalam catatan hariannya ini, Gie sering menceritakan banyak hal, di antaranya pada usianya yang masih relatif muda, dia berani mengkritik gurunya karena nilai ujian kebumiannya dikurangi 3, padahal dia merasa yang terpintar dalam mata ajar kebumian.
Hal lain yang saya kagumi dari dia adalah kegemarannya membaca. Kemanapun dia pergi, barang pertama yang wajib dibawa itu buku. Diceritakan dalam film ‘Gie’ karya Riri Reza dan Mira Lesmana, sosok Gie selalu membawa buku kemanapun dia pergi. Kegemarannya membaca inilah yang membentuk sosok Gie yang kritis, uptodate, mengetahui hal-hal yang terjadi di sekitarnya, mempunyai pemikiran yang tajam. Sifat gemar membaca inilah yang ingin saya tanamkan dalam diri saya, karena seperti kata pepatah, buku itu jendela dunia.
Pemikirannya yang tajam, kritis dan berani ini sering ia tuangkan dalam bentuk tulisan, dan sering dimuat dalam koran-koran nasional saat itu. Keprihatinan terhadap kondisi sekitar, kepeduliannya terhadap kondisi orang-orang di sekitarnya saat itu yang kebanyakan melarat, menjadi dasar pemikirannya dalam menulis. Selain itu, Gie dikenal sebagai seorang aktivis. Pada zamannya dahulu, Gie merasa banyak yang tidak beres pada sistem pemerintahan saat itu, sehingga perlu bagi Gie untuk memperjuangkan keadilan. Gie juga-lah yang menjadi garda terdepan saat-saat demonstrasi mahasiswa, yang di antaranya menjatuhkan rezim Orde Lama. Pada saat rezim Orde Lama sudah jatuh, orang-orang sekitar Gie merasa perlawanan sudah usai, namun bagi seorang Gie, perjuangan belum usai, karena dia masih melihat ketidakadilan merajalela dimana-mana, sehingga dia merasa perannya sebagai ‘social control’ masih mutlak diperlukan. Hal lain yang saya ketahui dari sosok Gie adalah dia sangat hobi menonton film, ludruk dan naik gunung. Sebagai seorang mahasiswa FS-UI (Fakultas Sastra UI), dia pulalah yang menghadirkan W.S. Rendra dalam beberapa pertemuan saat itu, yang tentunya sangat diimpi-impikan bagi siapapun untuk mendengar langsung puisi-puisi karya seniman professional itu. Selain itu, Gie pun hobi naik gunung. Baginya, bersatu dengan alam merupakan pelepas lelah terbaik. Hingga pun, Gunung Semeru-lah yang menjadi saksi bisu kematiannya saat mendaki tahun 1969 (usia belum genap 27 tahun). Suatu saat, Gie pernah mengutip perkataan seorang filsuf Yunani, “nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.” Hal ini seperti firasat Gie yang merasa hidupnya tidak akan lama. Lain kesempatan ia pernah berujar, “Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan yang kasar dank eras… diusap angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil.. orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.” Pun, Gie pernah berujar, “Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang… makin lama semakin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi, apa sebenarnya yang saya lakukan… kadang-kadang saya merasa sungguh kesepian.” Selain itu, Gie merupakan sosok yang sederhana, bahkan jauh dari anggapan orang-orang tentang ‘aktivis’, ‘demonstran’, ‘pendaki gunung’. Gie merupakan sosok yang culun, seperti yang diceritakan Nicholas Saputra, pemeran Gie dalam film ‘Gie’, ‘saya harus benar-benar memahami karakter seorang Gie, yang ternyata tidak seperti dugaan saya tentang aktivis atau demonstran, tapi culun’. Pun, Gie merupakan sosok yang romantis. Beberapa orang mengisahkan bahwa Gie pernah berkirim surat cinta. Namun Gie juga punya sifat pemalu, sehingga belum pernah ia menembak seorang perempuan pun. Sekali lagi, beruntung sejarah memperkenankan saya untuk mengenal sosok Gie lebih dalam, baik melalui catatan hariannya, ‘Catatan Seorang Demonstran’, kisah-kisah orang terdekatnya dalam buku ‘Soe Hok-Gie sekali lagi, buku pesta cinta dan alam bangsanya’, maupun dari film ‘Gie’ produksi Miles production. Diantara semua kepribadiannya, kegemaran membacalah yang menjadi inspirasi saya, dan sepertinya perlu dijadikan inspirasi setiap mahasiswa. Uptodate kejadian-kejadian yang terjadi di sekitarnya, mempertajam pemikiran, berpikir kritis, merupakan aspek-aspek penting mahasiswa untuk menjalankan fungsinya sebagai ‘social control’. 44 tahun sudah sosok Gie berada di alam sana, semangat dan jiwa intelektualmu akan selalu dikenang.
Pemikirannya yang tajam, kritis dan berani ini sering ia tuangkan dalam bentuk tulisan, dan sering dimuat dalam koran-koran nasional saat itu. Keprihatinan terhadap kondisi sekitar, kepeduliannya terhadap kondisi orang-orang di sekitarnya saat itu yang kebanyakan melarat, menjadi dasar pemikirannya dalam menulis. Selain itu, Gie dikenal sebagai seorang aktivis. Pada zamannya dahulu, Gie merasa banyak yang tidak beres pada sistem pemerintahan saat itu, sehingga perlu bagi Gie untuk memperjuangkan keadilan. Gie juga-lah yang menjadi garda terdepan saat-saat demonstrasi mahasiswa, yang di antaranya menjatuhkan rezim Orde Lama. Pada saat rezim Orde Lama sudah jatuh, orang-orang sekitar Gie merasa perlawanan sudah usai, namun bagi seorang Gie, perjuangan belum usai, karena dia masih melihat ketidakadilan merajalela dimana-mana, sehingga dia merasa perannya sebagai ‘social control’ masih mutlak diperlukan. Hal lain yang saya ketahui dari sosok Gie adalah dia sangat hobi menonton film, ludruk dan naik gunung. Sebagai seorang mahasiswa FS-UI (Fakultas Sastra UI), dia pulalah yang menghadirkan W.S. Rendra dalam beberapa pertemuan saat itu, yang tentunya sangat diimpi-impikan bagi siapapun untuk mendengar langsung puisi-puisi karya seniman professional itu. Selain itu, Gie pun hobi naik gunung. Baginya, bersatu dengan alam merupakan pelepas lelah terbaik. Hingga pun, Gunung Semeru-lah yang menjadi saksi bisu kematiannya saat mendaki tahun 1969 (usia belum genap 27 tahun). Suatu saat, Gie pernah mengutip perkataan seorang filsuf Yunani, “nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.” Hal ini seperti firasat Gie yang merasa hidupnya tidak akan lama. Lain kesempatan ia pernah berujar, “Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan yang kasar dank eras… diusap angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil.. orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.” Pun, Gie pernah berujar, “Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang… makin lama semakin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi, apa sebenarnya yang saya lakukan… kadang-kadang saya merasa sungguh kesepian.” Selain itu, Gie merupakan sosok yang sederhana, bahkan jauh dari anggapan orang-orang tentang ‘aktivis’, ‘demonstran’, ‘pendaki gunung’. Gie merupakan sosok yang culun, seperti yang diceritakan Nicholas Saputra, pemeran Gie dalam film ‘Gie’, ‘saya harus benar-benar memahami karakter seorang Gie, yang ternyata tidak seperti dugaan saya tentang aktivis atau demonstran, tapi culun’. Pun, Gie merupakan sosok yang romantis. Beberapa orang mengisahkan bahwa Gie pernah berkirim surat cinta. Namun Gie juga punya sifat pemalu, sehingga belum pernah ia menembak seorang perempuan pun. Sekali lagi, beruntung sejarah memperkenankan saya untuk mengenal sosok Gie lebih dalam, baik melalui catatan hariannya, ‘Catatan Seorang Demonstran’, kisah-kisah orang terdekatnya dalam buku ‘Soe Hok-Gie sekali lagi, buku pesta cinta dan alam bangsanya’, maupun dari film ‘Gie’ produksi Miles production. Diantara semua kepribadiannya, kegemaran membacalah yang menjadi inspirasi saya, dan sepertinya perlu dijadikan inspirasi setiap mahasiswa. Uptodate kejadian-kejadian yang terjadi di sekitarnya, mempertajam pemikiran, berpikir kritis, merupakan aspek-aspek penting mahasiswa untuk menjalankan fungsinya sebagai ‘social control’. 44 tahun sudah sosok Gie berada di alam sana, semangat dan jiwa intelektualmu akan selalu dikenang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar